Ya itu semua karena sebuah sistm yang salah. Seorang kader mendaftar partai, ditunjuk atau diangkat partai, lalu menawarkan diri ke masyarakat.
Ini saya yakin jadi keluhan banyak sekali dari rakyat. Ini bs jadi peluang kita marketing mas. Contoh : kelompok masyarakat bs menunjuk seseorang atau beberapa orang di daerah tersebut/komunitasnya untuk menjadi anggota partai kita. Nggak boleh secara pribadi mengajukan diri, harus bbrp orang. Nah, satu syarat kepemimpinan tercapai : nggak boleh mengajukan diri !
Lalu, tentu saja kita akan seleksi kepribadian mereka, yg tentunya sesuai dgn syarat-syarat kita. Juga apakah penunjukan tersebut direkayasa atau alami.
Bahkan disini, kita bs masukkan anggota non muslim, jika mmg pemilih mereka non muslim semua. Misalnya : daerah papua atau NTT.
Disinilah nanti akan ada gejolak, yg gak keterima. Ya itulah politik..
Kedua, nggak berbenturan dgn kepentingan kita. Toh kita gak punya gerakan tunggal kepentingan yg sama. Jadi kita bs tampung semua golongan di masyarakat yg ingin punya wakil rakyat yg baik. Betul2 sistem aspirasi dari bawah !! Nanti mereka Insya Allah akan sukarela iuran demi wakil mereka. Dan juga mendaftar secara online, di komando oleh pemimpin lokal mereka.
Kita hanya seleksi pribadi mereka, bkn kepentingan lokal mereka. Asal tidak bertentangan dengan kepentingan pusat.
Kita bisa sosialisasi ke grp2, mereka juga akan share satu sama lain. Viral mass. Virall. Insya Allah...
Dan kayaknya warna kita harus jelas dulu : hijau, islam, sosial. Karena kita akan banyak tolak kelompok jokower dan ahoker kayaknya..
Jika ini jadi pondasi dasar gerakan, maka nggak akan ada anggota abadi partai. Secara lima tahunan bs ganti, sesuai kehendak rakyat..
Anggota abadi ya kita aja.hehe Pendirinya, yg gak pernah boleh menjadi pejabat.. Cukup bagian milihi pejabat..
Kita mah hanya aplikasi Gojek Wakil Rakyat mas.. Kita hanya menyeleksi driver (DPR/D), nggak punya agenda pribadi..Jadi kita bkn mendirikan partai, tapi menciptakan startup berbasis IT dlm politik aspirasi..Cmn pakek kendaraan sistem demokrasi yg ada. Harus punya anggota, harus punya cabang, uang, pengurus, sekertariat, dll.
Ada versi web, ada versi android : untuk iuran, pelaporan kegiatan, pelaporan kinerja, dll. Keuangan berbasis lokal tapi terintegrasi dgn pusat, nasional..
Karena kita bkn penggerak pemikiran, kita gak perlu mikir kaderisasi, koordinasi yg ruwet2, dll. Jadi kita gak akan punya musuh dalam agenda politik, krn vs jadi ketua partainya nanti bkn kita hehe..
Musuh kita yg banyak adalah mereka yg sdh mengajukan diri tapi tidak kita terima..
Jadi langkah teknis kita adalah : bikin sistem onlinenya, rekrut bbrp volunter (gak harus selevel kita) utk operasional, bikin page, lalu bikin brosur online utk diviralkan.. Selanjutnya biar mengalir mas
Lama-lama kita jadi jadi platform aspirasi mas. Kelompok2 yg ingin eksis tinggal pakek tools kita. Dan, powernya, kita yg menentukan, siapa yg layak pakai dan nggak. Untuk keanggotaan cukup 5 tahun periode saja, jika mereka bagus, bisa diperpanjang, jika tidak bagus ya diganti sama yang lain.
Ini saya yakin jadi keluhan banyak sekali dari rakyat. Ini bs jadi peluang kita marketing mas. Contoh : kelompok masyarakat bs menunjuk seseorang atau beberapa orang di daerah tersebut/komunitasnya untuk menjadi anggota partai kita. Nggak boleh secara pribadi mengajukan diri, harus bbrp orang. Nah, satu syarat kepemimpinan tercapai : nggak boleh mengajukan diri !
Lalu, tentu saja kita akan seleksi kepribadian mereka, yg tentunya sesuai dgn syarat-syarat kita. Juga apakah penunjukan tersebut direkayasa atau alami.
Bahkan disini, kita bs masukkan anggota non muslim, jika mmg pemilih mereka non muslim semua. Misalnya : daerah papua atau NTT.
Disinilah nanti akan ada gejolak, yg gak keterima. Ya itulah politik..
Kedua, nggak berbenturan dgn kepentingan kita. Toh kita gak punya gerakan tunggal kepentingan yg sama. Jadi kita bs tampung semua golongan di masyarakat yg ingin punya wakil rakyat yg baik. Betul2 sistem aspirasi dari bawah !! Nanti mereka Insya Allah akan sukarela iuran demi wakil mereka. Dan juga mendaftar secara online, di komando oleh pemimpin lokal mereka.
Kita hanya seleksi pribadi mereka, bkn kepentingan lokal mereka. Asal tidak bertentangan dengan kepentingan pusat.
Kita bisa sosialisasi ke grp2, mereka juga akan share satu sama lain. Viral mass. Virall. Insya Allah...
Dan kayaknya warna kita harus jelas dulu : hijau, islam, sosial. Karena kita akan banyak tolak kelompok jokower dan ahoker kayaknya..
Jika ini jadi pondasi dasar gerakan, maka nggak akan ada anggota abadi partai. Secara lima tahunan bs ganti, sesuai kehendak rakyat..
Anggota abadi ya kita aja.hehe Pendirinya, yg gak pernah boleh menjadi pejabat.. Cukup bagian milihi pejabat..
Kita mah hanya aplikasi Gojek Wakil Rakyat mas.. Kita hanya menyeleksi driver (DPR/D), nggak punya agenda pribadi..Jadi kita bkn mendirikan partai, tapi menciptakan startup berbasis IT dlm politik aspirasi..Cmn pakek kendaraan sistem demokrasi yg ada. Harus punya anggota, harus punya cabang, uang, pengurus, sekertariat, dll.
Ada versi web, ada versi android : untuk iuran, pelaporan kegiatan, pelaporan kinerja, dll. Keuangan berbasis lokal tapi terintegrasi dgn pusat, nasional..
Karena kita bkn penggerak pemikiran, kita gak perlu mikir kaderisasi, koordinasi yg ruwet2, dll. Jadi kita gak akan punya musuh dalam agenda politik, krn vs jadi ketua partainya nanti bkn kita hehe..
Musuh kita yg banyak adalah mereka yg sdh mengajukan diri tapi tidak kita terima..
Jadi langkah teknis kita adalah : bikin sistem onlinenya, rekrut bbrp volunter (gak harus selevel kita) utk operasional, bikin page, lalu bikin brosur online utk diviralkan.. Selanjutnya biar mengalir mas
Lama-lama kita jadi jadi platform aspirasi mas. Kelompok2 yg ingin eksis tinggal pakek tools kita. Dan, powernya, kita yg menentukan, siapa yg layak pakai dan nggak. Untuk keanggotaan cukup 5 tahun periode saja, jika mereka bagus, bisa diperpanjang, jika tidak bagus ya diganti sama yang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar