Mulai Dari Diri Sendiri

Tidak akan ada habisnya kita kecewa terhadap sistem politik negeri ini yang tak kunjung membaik, tak ada habisnya menuntut perubahan kepada orang lain. Tiap hari disuguhi berita-berita memprihatinkan. Akan perilaku para pejabat, eksekutif, legistlatif, penegak hukum, dan juga masyarakat sendiri yang sering mengecewakan.

Memang, ketika kita menuntut atau mengkritik, bisa jadi ada perubahan. Tapi perubahan seperti itu adalah perubahan instan, berubah karena tuntutan dari luar. Sementara, dari dalam pelaksana yang kita tuntut, belum tentu dari hati, belum tentu tulus, belum tentu jujur, dan bisa jadi kurang sempurna. Karena belum tentu disertai kemauan dari diri sendiri.

Oleh karena itu, berubah harus dari diri sendiri. Dan untuk membuat sebuah perubahan, tidak akan bisa tanpa pengorbanan. Pengorbanan, adalah sikap dan istilah paling mulia, paling tinggi diatas kejujuran. Banyak yang bilang, Indonesia banyak yang pintar, tapi yang jujur sedikit. Lalu, dari yang jujur, yang sedikit ini, berapa yang mau berkorban untuk negerinya? Bukan sekedar berkorban harta, waktu dan tenaga seperti kebanyakan orang berkata. Tapi berkorban yang sebenarnya adalah berkorban untuk ikhlas tidak mendapatkan apa-apa, ikhlas tidak dikenal, ikhlas dihina, disakiti, diabaikan, ikhlas miskin, ikhlas sengsara, ikhlas disisihkan, ikhlas tidak mendapatkan keadilan, walaupun sudah berkorban waktu, harta, dan tenaga, walaupun kita merasa benar.
Tidak ada batas yang jelas bagi sebuah pengorbanan. Bahkan berkorban tidak mendapatkan keadilan yang semestinya contohnya.

Inilah bentuk pengorbanan sejati. Insya Allah Indonesia akan jadi negara yang termasyhur, jika masing-masing individu bisa memiliki karakter berkorban ini dalam jiwa masing-masing. Dalam kehidupan materialistik dan hedonistik seperti ini, jangan terlalu berharap banyak mendapatkan imbal balik semestinya dengan "pengorbanan" yang kita lakukan. Berkorban sudah jujur, sudah baik, sudah berdo'a, sudah ini dan itu, dan berharap segalanya akan baik-baik saja.

Kita harus lebih berkorban, dan berkorban lagi, dan berkorban lagi.
Dan, berkorban, jika menjadi urusan nafsi-nafsi tidaklah signifikan. Berkorban harus menjadi sebuah gerakan teorganisir dan massal. Agar menjadi sebuah energi yang besar untuk seluruh bangsa.
Oleh karena itulah, kami membentuk partai ini. Agar semua yang memiliki semangat berkorban, bisa diorganisir, saling memberi semangat, saling mengingatkan, dan saling memberi energi.
Dan poin-poin, jenis-jenis, titik-titik pengorbanan ini akan dijabarkan dalam pasal-pasal AD-ART partai.

Terima kasih.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar